Wednesday, 27 April 2016

The Divergent Movie Series: Allegiant


 Genre  :  Adrentures, Sci-Fi
Sutradara  :  Robert Schwentke
Penulis  :  Noah Oppenheim, Veronica Roth
Pemain  :  Shailene Woodley (Tris), Theo James (Four), Miles Teller (Peter)
Tanggal Rilis  :  18 Maret 2016



SPOILLER ALERT!!!!
    Film yang diadaptasi dari novel Veronica Roth ini adalah film pamungkas dari film seri Divergent, kabarnya sih bakal ada lagi film selanjutnya yang berjudul Ascendant tapi belum kebayang olehku apakah ini adalah film yang terpisah atau film lanjutan yang diadaptasi lagi dari novel Four yang merupakan perjalanan kisah tokoh Four sebelum Tris, we’ll see. Sebelum aku nonton film ini aku udah terlebih dulu baca semua novel dari seri Divergent dan nonton dua film sebelumnya yaitu Divergent dan Insurgent, tapi reviewnya masih duduk manis di draf yang kayaknya udah mulai muncul sarang laba-labanya, berhubung film Allegiant ini baru rilis kemarin tanggal 18 Maret 2016 dan lagi in banget jadi aku post review film ini duluan. Tapi aku udah pernah review novel Divergent kok, kalian bisa liat reviewku di sini.
    Jadi satu kata dariku buat film ini: kecewa! Sebenernya entah aku yang memasang ekspektasi terlalu tinggi atau gimana ya, tapi film ini benar-benar berbeda dengan novel yang menjadi patokannya. Saat melihat thrillernya pun aku sudah punya bayangan kalau film ini akan berbeda dengan novelnya, dan saat aku menonton filmnya aku nggak nyangka sih bakal sejauh ini perbedaannya. Sebenarnya perbedaan filmnya sudah mulai terasa di film Insurgent, tapi perbedaan di film Insurgent menurutku masih di batas kewajaran, berbeda dengan perbedaan di film Allegiant ini yang menurutku mereka malah mencoba membuat cerita film sendiri dengan menggunakan nama dan latar dari novelnya.
    Pada awal film sudah sangat terlihat perbedaannya, jadi di novelnya diceritakan bahwa ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Allegiant yang ingin mengembalikan faksi-faksi seperti dulu, kelompok itu mengutus Tris dan kawan-kawan untuk pergi keluar pagar yang mana hal itu adalah tindakan yang di larang oleh pemimpin saat itu, Evelyn. Sementara dalam film, Tris dan kawan-kawanlah yang mempunyai inisiatif sendiri untuk keluar pagar, menurutku bagian ini terlalu terburu-buru karena Tris dan kawan-kawan keluar pagar bahkan tanpa terlebih dulu memperkenalkan Allegiant kepada penonton. Ini adalah kesalahan fatal menurutku, memperkenalkan Allegiant ketika Tris dan kawan-kawan sudah berada di luar pagar (dan itupun hanya sekilas perkenalan) karena itu membuat penonton yang belum membaca novelnya bingung apa itu Allegiant dan apa hubungannya Tris dan kawan-kawannya dengan Allegiant? Bahkan dalam film ini tidak ada komunikasi yang terjadi antara Tris dan kelompok Allegiant.
    Selanjutnya ketika sudah berada di luar pagar Tris dan kawan-kawan bertemu dengan orang-orang dari Biro Kesehatan, di sini mereka mengetahui bahwa kota mereka di dalam pagar – Chicago – adalah salah satu percobaan orang-orang Biro yang berusaha memperbaiki keturunan manusia. Dulu mereka (orang-orang di luar pagar)  berpikiran bahwa tiap manusia membawa gen jahat pada DNA masing-masing, itulah alasan orang-orang Biro memperbaiki genetik manusia tapi ternyata hasilnya sangatlah buruk karena manusia-manusia hasil eksperimen itu hanya mempunyai satu dimensi karakter. Karena itulah Biro mulai mengisolasi orang-orang bergenetik rusak atau genetically damaged (GD) ke dalam beberapa area percobaan. Orang-orang GD itu dibiarkan hidup, beraktivitas, dan berkembang biak sampai terjadi mutasi penyembuhan dan muncullah orang-orang dengan genetik murni atau genetically pure (GP).
     Chicago merupakan salah satu area percobaan itu dan satu-satunya area percobaan yang masih bertahan dengan menggunakan sistem faksi. Dalam Chicago, GP muncul lahir dalam bentuk Divergent. Tetapi ternyata tidak semua Divergent itu GP, Trislah satu-satunya hasil percobaan yang berhasil karena hanya dia satu-satunya manusia yang bergenetik murni. Pada bagian ini, tidak ada  perbedaan cerita di antara novel dan filmnya karena menurutku ini adalah inti masalah yang diangkat dalam cerita Allegiant ini.
     Setelah perkenalan dengan dunia luar dan penjelasan Biro tentang Chicago dan percobaan-percobaannya inilah kejanggalan mulai terjadi dalam film ini. Film ini melewatkan satu peristiwa penting dalam novel dan membuang dua peran penting, yaitu Matthew dan Nita. Sebenarnya Matthew dan Nita juga ada dalam film ini tapi perannya jadi sangat tidak penting dan malah terkesan hanya menjadi ‘cameo’, padahal dalam novelnya mereka berdua mempunyai peran yang cukup penting. Dalam film ini juga tidak terlalu ketara kekecewaan Four terhadap dirinya sendiri setelah mengetahui dirinya bukanlah GP seperti Tris, dalam novelnya Four merasa benar-benar kecewa sampai melakukan permberontakan terhadap Biro bersama Matthew dan Nita yang menyebabkab salah satu temannya, Uriah, harus meregang nyawa. Ya walaupun aneh juga menurutku seorang Four yang digambarkan begitu kuat dan maskulin digambarkan sangat galau gara-gara mengetahui dirinya GD.
     Four melihat kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di Biro dan ia berusaha menyampaikannya pada Tris, tapi sayangnya Tris lebih memercayai orang-orang Biro, hal itu membuat Four kecewa dan memutuskan kembali ke Chicago dengan bantuan Matthew. Keadaan yang semakin kacau di Chicago membuat orang-orang Biro memutuskan untuk memprogram ulang semua manusia yang ada di Chicago dengan serum memori, agar semua orang yang terkena serum itu lupa ingatan dan memulai segalanya dari awal lagi. Di sini lah titik awal kesadaran Tris yang tadinya mempercayai Biro, ia akhirnya memutuskan untuk menyusul Four kembali ke Chicago. Biro sudah terlebih dulu mengutus Peter pergi ke Chicago untuk melepaskan serum memori akhirnya berhasil melepaskan serum memori di Chicago, tapi sebelum serum itu menyebar, Tris dan kawan-kawan dapat menghentikannya.
     Sungguh, aku kecewa dengan akhir yang terjadi di Film. Di ceritakan di novelnya kalau Tris akhirnya mengorbankan nyawanya sendiri demi cinta, cinta kepada Celeb sang kakak dan cinta kepada orang-orang di Chicago. Mungkin banyak yang kecewa dengan akhir dari novelnya tapi aku sendiri sebenarnya menghargai keputusan Veronica Roth untuk mengakhiri hidup Tris pada bagian akhir novelnya, karena itulah inti dari semuanya, pengorbanan dan cinta. Dalam film, Tris dibiarkan tetap hidup setelah berhasil mengentikan serum memori yang dilepas orang-orang Biro di Chicago. Dengan akhir yang seperti ini, menurutku pengorbanan Tris selama ini malah jadi tidak berarti, dan dengan ia menghentikan serum memori bukan berarti percobaan orang-orang Biro untuk memprogram ulang semua manusia di Chicago itu otomatis terhenti bukan? Bisa saja orang-orang Biro masih mempunyai seribu cara lainnya untuk memprogram ulang orang-orang di Chicago. Dalam novelnya, orang-orang Biro sudah pasti tidak dapat melakukan apa-apa lagi karena cerita dalam novelnya orang-orang Biro lah yang diprogram ulang oleh Tris dan kawan-kawan karena justru mereka yang menyebarkan serum memori di Depertemen Kesehatan.
     Saat awal aku mengetahui film ini tidak dibagi menjadi 2 seperti film yang diadaptasi dari seri terakhir novel lainnya, aku merasa senang. Karena menurutku membagi dua film membuat plot cerita jadi sedikit kacau dan euphoria penonton berkurang, tapi nyatanya begini jadinya kalau film tidak dibagi dua, kacau, banyak peristiwa penting yang terlewat dan tokoh-tokoh penting yang dibuang. Sekarang aku tau mengapa banyak film pemungkas yang dibagi menjadi 2 part, hanya satu alasannya, tapi alasan itu sangat penting dan kuat: durasi.
     Film yang cukup menghibur menurutku asal tak memasang ekspektasi tinggi sebelum menontonnya, cukup jadikan hiburan saja. Film ini aku rekomendasikan kepada orang-orang yang telah membaca novelnya terlebih dulu, dan untuk yang belum membaca novelnya aku sarankan untuk terlebih dulu membaca novelnya karena sebagian besar penonton yang belum membaca novelnya merasa bingung dan tidak mengerti dengan jalan ceritanya.



No comments:

Post a Comment